Friday, May 11, 2007
Detik-detik Rasulullah SAW Menghadapi Sakaratul Maut
Peepz, it's something that all must know and take the necessary actions....haiz i 7433-83277-567!!!! secret....only the smarties can crack the code..haha :)Detik-detik Rasulullah SAW Menghadapi Sakaratul Maut.........
Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkanAllah melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, walaupun langit telah mulaimenguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.
Pagi itu,Rasulullah dengan suara terbatas memberikan khutbah, "Wahai umatku, kitasemua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati danbertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al Qur'an dansunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelakorang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku."
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang danpenuh minat menatap sahabatnya satu persatu.Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turunmenahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Alimenundukkan kepalanya dalam-d! alam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.
"Rasulullah akan meninggalkan kita semua,"keluh hati semua sahabatkala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnyadidunia.Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun darimimbar.Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu.
Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang didalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkansalam.
"Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannyamasuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkanbadandan menutup pintu.Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ! ternyata sudah membuka matadan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahaianakku?"
"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,"tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu denganpandanganyang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya ituhendakdikenang.
"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara,dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kataRasulullah,Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri,tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langitdunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini."Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" TanyaRasululllah dengan suara yang amat lemah.
"Pintu-pintu langit telahterbuka, paramalaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar m! enantikedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullahlega, matanya masih penuhkecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi."Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahaiRasulAllah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurgabagisiapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruhRasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh,urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnyamenunduksemakin dalam dan Jibril memalingkan muka."Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?"
TanyaRasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup,melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidaktertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini,timpakan saja semuasiksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.Bibirnya bergetar seakan hendakmembisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya."Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat danpeliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulaiterdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangandi wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullahyang mulai kebiruan.
"Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini,mampukah kitamencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim'alaihiBetapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesedaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, sepertiAllah dan Rasulnya mencintai kita. Kerana sesungguhnya selain daripadaituhanyalah fana belaka.
<< Home